Penjelasan Hadits Tentang Bid’ah Dhalalah (sesat)

Posted by orgawam pada September 15, 2010

Syarah Hadits “Kullu bid’atin dlalalah”

Diriwayatkan oleh Imam Muslim di dalam kitab sahihnya,

Dari Jabir bin Abdullah Ra, dari Nabi Saw.. Beliau berkata dalam khutbahnya: ”Sesungguhnya sebaik-baiknya perkataan adalah kitab Allah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Saw, dan seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara yang baru, dan setiap bid`ah adalah sesat.

Imam Nawawi menjelaskan/mensyarah bahwa kalimat ”kull”yang ada pada redaksi hadits tidaklah menjadikan seluruh bid`ah sesat, akan tetapi maknanya kebanyakan bid`ah adalah sesat. Imam Nawawi juga memaparkan perkataan ulama yang membagi bid`ah sama dengan hukum taklify yang 5; wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram.

Imam Nawawi mengomentari hadits ini:

“Sabda Nabi Saw “dan setiap bid`ah adalah sesat” ini, merupakan bentuk umum yang dikhususkan. Dan yang dimaksudkan di dalam hadits adalah mayoritas (kebanyakan) dari bid`ah. Menurut para ahli bahasa: bid`ah dimaksudkan untuk setiap amalan yang dilakukan tanpa ada contoh sebelumnya. Para ulama mengatakan: bid`ah itu terbagi kepada 5 macam;

1. Wajib,

2. Sunnah,

3. Haram,

4. Makruh dan

5. Mubah.

Diantara contoh bid`ah yang wajib: Upaya pengonsepan dalil logika, yang dilakukan oleh para ulama ahli kalam, untuk membantah para atheis, ahli bid`ah, dan orang-orang yang setipe dengan mereka.

Diantara contoh bid`ah yang sunnah: Menulis kitab-kitab ilmiah, membangun madrasah-madrasah, membuat majlis zikir, dan hal-hal seperti itu.

Diantara contoh bid`ah yang mubah: Berkreasi dalam mengolah warna makanan dan yang sejenis itu.

Sementara bid`ah yang haram dan yang makruh sudah jelas.

Apabila dipahami apa yang aku disebutkan, maka akan diketahui bahwa hadits ini adalah hadits umum yang dikhususkan. Beghitu juga dengan hadits-hadits yang semisal dengan yang diriwayatkan ini. Hadits-hadits seperti ini dikuatkan oleh perkataan Sayyidina Umar: “ni`mat al bid`ah”, sebaik-baiknya bid`ah adalah ini. Dan tidak ada halangan bentuk hadits umum yang bisa dikhususkan karena Sabda Rasul saw: كل بدعة ضلالة” setiap bid`ah adalah sesat” yang dikuatkan dengan kalimat كل “kull” (seluruh). Akan tetapi (kull ini) dimasuki oleh takhshish. Seperti firman Allah:”Yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa.(QS: Al Ahqaaf: 25)””… selesai ucapan imam Nawawi.


Pada hadits `Irbadh bin Saariyah, sabda Rasul saw:

“Dan hendaklah kalian menjauhi perkara-perkara yang baru, karena setiap bid`ah adalah sesat.” Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud, Tumudzi dan Ibnu majah, disahihkan oleh Turmudzi, Ibnu Hibban dan Hakim.

Al Hafiz Ibnu Rajab di dalam syarah (penjelasan)nya, mengomentari:

“Dan yang dimaksud dengan bid`ah adalah: semua hal baru yang dilakukan tanpa ada dasar dari syariat yang menunjukkan boleh melakukannya. Dan apapun yang ada asal dari syariat yang menunjukkannya, maka bukanlah bid`ah secara syariat, meskipun bid`ah secara bahasa.” … selesai ucapan Al hafiz Ibnu Rajab.

Pada hadits sahih Bukhari yang diriwayatkan dari Ibnu Mas`ud, beliau berkata:

Sesungguhnya sebaik-baiknya ucapaan adalah kitab Allah dan sebaik-baiknya petunjuk adalah petunjuk Muhammad saw. dan seburuk-buruk perkara dalah semua yang baru.

Al Hafidz Ibnu Hajar (Asqalani) mengomentari:

” المحدثات (almuhdasaat) bentuk plural dari kalimat المحدثة (almuhdatsah), dan yang dimaksudkan dengannya adalah: apa-apa yang baru dan tidak memiliki dasar di dalam syariat. Di dalam terma syariat kemudian dikenal dengan nama bid`ah. Dan ada pun semua yang memiliki dasar dari syariat yang menunjukkanya, maka bukanlah bid`ah. Maka bid`ah dalam terma agama adalah mazmumah (tercela), beda halnya dengan bid`ah menurut konsep bahasa. Maka, semua yang terjadi tanpa ada misal sebelumnya dinamakan bid`ah, baik itu mahmudah (terpuji) atapun mazmumah (tercela)… selesai ucapan Al hafiz Ibnu Hajar.

Al Hafiz `Abdullah Shiddiq Ghumary mengomentari:

Apa-apa yang baru dan ada dasarnya dari syariat yang menunjukkanya, maka itu dinamakan dengan bid`ah hasanah (terpuji), beghitu juga yang dinamakan oleh Nabi Saw. Dan kebalikannya dinamakan dengan bid`ah, sebagaimana juga dinamakan dengan bid`ah sayyi-ah (tercela).

Diriwayatkan oleh Abu Na`im dari Ibrahiim Bin Junaid, dia berkata:

saya mendengar Syafi`i berkata: Bid`ah itu ada dua, bid`ah mahmudah (terpuji) dan bid`ah mazmumah (tercela). Apapun yang berkesesuaian dengan sunnah, maka ia itu adalah terpuji, dan apa-apa yang bertentangan dengan sunnah, maka ia adalah tercela.

Diriwayatkan oleh imam Baihaqi di dalam Manaqib Imam Syafi`i, diriwayatkan darinya.

Ia ( Imam Syafi`i) berkata: hal-hal yang baru itu ada dua kategori: Apapun hal-hal baru yang bertentangan dengan kitab, sunnah, atsar atau ijma`, maka ini adalah bid`ah yang sesat (dholal). Dan hal-hal baru yang masuk dalam kategori kebaikan, maka tidak ada khilaf pada masalah tersebut seorangpun dalam masalah ini. Maka ini perkara baru yang tidak tercela dan Sayyidina Umar benar-benar telah berkata ketika mengomentari masalah Qiyaam Ramadhan ” sebaik-baiknya bid`ah adalah ini” maksudnya adalah, ini perkara baru yang belum pernah terjadi. Seandaipun terjadi, maka ia tidak bertentangan terhadap apa yang telah pernah terjadi.”

Berkata al Hafidz Ibnu Hajar (Asqalani) di dalam kitab Fath Al Bari,

Adapun Sabda Rasul di dalam hadits Irbadh “maka sesungguhnya setiap bid`ah adalah sesat”, setelah sabdanya: dan hendaklah kalian untuk menjauhi hal-hal yang baru”, maka ini menunjukkan bahwa segala yang baru dinamakan bid`ah. dan sabdanya, “setiap bid`ah adalah sesat”, merupakan kaidah syar`iyah yang bersifat kulliyah (menyeluruh) secara tersurat (manthuq) dan secara eksplisit (mafhumnya). Adapun secara tersurat, seperti pernyataan:

Hukum masalah ini adalah bid`ah (premis minor)

Setiap bid`ah adalah sesat (premis mayor)

Maka masalah tersebut bukanlah dari syar`i, karena syariat seluruhnya adalah petunjuk (huda).

Apabila ditetapkan bahwa hukum yang disebutkan adalah bid`ah, maka sah kedua muqaddimah (premis). Dan kedua premis menghasilkan Natijah (result) yang diinginkan. Sedangkan yang dimaksud dengan sabda beliau: “Setiap bid`ah”, adalah apa-apa yang baru dan tidak ada dalil baginya dari syariat, baik secara khusus maupun secara umum”… selesai ucapan Al Hafidz Ibnu Hajar.

Berkata Imam Nawawi di dalam kitab Tahzib Al Asmaa` Wa Al Lughat:

Bid`ah di dalam syariat adalah mengadakan sesuatu yang tidak ada di masa Rasul saw. dan bid`ah terbagi kepada dua; hasanah (baik) dan qabihah (tercela).

Dari komentar para Huffaz diatas dipahami rambu-rambu dalam menilai sebuah perbuatan adalah bid`ah atau tidak. Bid`ah ternyata tidak dipahami dengan sempit, akan tetapi beghitu lapang!

Pembagian bid`ah kepada hukum taklify yang lima.

Di awal sudah kita paparkan tentang pemahaman ulama terhadap hadits yang menjelaskan bid`ah dan ulama memahaminya begitu lapang. Jikalau kita telusuri lebih jauh, ternyata pembagian bid`ah tidak hanya kepada dua, seperti yang dipaparkan oleh Tuan Syaikh, seorang imam yang disepakati keimaman, keagungan, kepakaran dan kedalaman ilmunya di pelbagai disiplin ilmu,

Abu Muhammad Abdul Aziz bin Abdul Salam ra pada akhir kitab Al Qawaa-Id:

Bid`ah itu terbagi kepada; wajib, haram, sunnah dan mubah. Beliau kemudian menjelaskan: dan cara untuk mengetahui bid`ah itu ditinjau dari kaidah-kaidah syariah, apabila masuk ke dalam kaidah-kaidah wajib, maka ia menjadi bid`ah yang wajib. Apabila masuk kedalam kaidah-kaidah sunnah, maka ia menjadi bid`ah yang sunnah. Apabila masuk kedalam kaidah-kaidah makruh, maka ia menjadi bid`ah yang makruh. Dan apabila masuk kedalam kaidah mubah, maka ia menjadi bid`ah yang mubah.

Bid`ah yang wajib, diantara contohnya;

Pertama: Sibuk dengan ilmu nahwu yang dengannya dipahami kalamullah (Al Quran) dan hadits Rasul saw., maka itu adalah bid`ah yang wajib. Karena menjaga syariat adalah wajib dan tidak akan tercapai penjagaannya, kecuali dengan menyibukkan diri mengkaji ilmu nahwu. Dan apa saja yang tidak akan terlaksana hal-hal wajib, kecuali dengannya, maka ia akan menjadi wajib juga.

Kedua: menghafal gharib (makna yang sulit dipahami) dari al Qur`an dan sunnah.

Ketiga: membukukan secara sitematis ilmu ushuluddin dan ushul fiqh.

Keempat: membicarakan masalah jarh dan ta`dil dan membedakan antara hadits yang sahih dan yang cacat.

Sesungguh sudah ditunjukkan oleh Kaidah syariah bahwa menjaga syariah adalah fardhu kifayah pada hal-hal yang di luar dari kapasitas fardhu `ain (yang diwajibkan kepada setiap individu). Maka, tidak akan tercapai (penjagaan syariah itu), kecuali dengan melakukan hal-hal yang telah kami sebutkan.

Bid`ah yang diharamkan, diantara contohnya:

Pelbagai bid`ah yang dilakukan oleh mazhab Al Qadariyah, Jabariyah, Murjiah dan Mujassimah. Sedangkan membantah mereka adalah bid`ah yang wajib.

Bid`ah yang sunnah, diantara contohnya:

Mendirikan ribath (majlis zikir), madrasah-madrasah, dan setiap kebaikan yang tidak ada di masa awal islam, seperti; pelaksanaan tarawih, pembahasan masalah-masalah secara detail ilmu tasawwuf dan ilmu jadal. Diantaranya juga adalah mengumpulkan orang banyak untuk menunjukkan dalil-dalil dari syariat -apabila dimaksudkan hal tersebut murni karena Allah Swt-.

Bid`ah yang makruh, diantara contohnya:

menghiasi masjid dan mendekorasi mushaf, dll.

Bid`ah yang mubah, diantara contohnya:

Bersalaman setiap selesai shalat subuh dan ashar, berkreasi dalam membuat citarasa makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal dan memakai thayalishah (peci) serta melebarkan lengan baju.

Memang terjadi perbedaan pendapat pada sebagian itu, sehingganya oleh ulama dimasukkan kedalam kategori bid`ah yang makruh. Sementara sebagian lain menjadikannya sebagai sunnah yang telah dikerjakan di masa rasul Saw dan setelah beliau, seperti; berta`awudz di dalam shalat dan basmalah….selesai ucapan Imam Abu Muhammad Abdul Aziz bin Abdul Salam.

Penamaan bid`ah hasanah dengan maslahah.

Diketahui dari pemaparan sebelumnya, bahwa ulama telah sepakat atas pembagain bid`ah kepada bid`ah mahmudah (terpuji) dan bid`ah mazmumah (tercela). Sedangkan Sayyidina Umar Ra. merupakan orang pertama yang mengucapkannya. Mereka juga sepakat bahwa sabda Nabi Saw. ”setiap bid`ah adalah sesat”, bersifat umum yang dikhususkan.

Tidak ada yang berbeda dari kesepakatan ulama ini, kecuali Imam Syathibiy, pengarang kitab al I`tisham. Beliau mengingkari pembagian seperti ini dan menganggap bahwa ”setiap bid`ah adalah mazmumah”. Akan tetapi ia mengakui bahwasanya diantara bid`ah ada yang dituntut untuk melaksanakannya dalam bentuk wajib atau sunnah. Beliau kemudian menjadikannya ke dalam kategori maslahah mursalah. Maka perbedaan yang terjadi hanya secara lafzhiy (bahasa) yang dilihat dari sisi pembagian, yaitu bid`ah yang dituntut melaksanakannya tidak dinamakan dengan bid`ah hasanah, akan tetapi dinamakan dengan maslahah.

Bid`ah tidak dilihat dari bahasanya akan tetapi dari unsur pelanggarannya terhadap syariat.

Imam Syafi`i mengatakan:

Seluruh yang ada sandarannya secara syar`i, maka bukanlah bid`ah, meskipun tidak dilakukan oleh ulama salaf, karena mereka meninggalkan beramal boleh jadi karena `uzur yang ada pada mereka pada saat itu. Atau juga karena ada hal-hal yang dirasa lebih afdhal daripada melakukannya. Atau boleh jadi belum sampai ilmu kepada mereka… selesai ucapan Imam Syafi`i

Kata Imam Ibn Al Lubb ketika membantah orang-orang yang menyatakan bahwa makruh berdo`a setelah shalat Ashar:

Paling banter yang diajukan oleh orang-orang yang menyatakan makruh berdo`a setelah shalat adalah “komitmen mereka dengan do`a seperti ini bukanlah merupakan perbuatan ulama salaf”. Dengan asumsi bahwa sahnya qaul ini, maka meninggalkan sesuatu, tidaklah menyebabkan hukum pada masalah yang ditinggalkan, kecuali menunjukkan bolehnya meninggalkan dan tidak ada halangan dalam melaksanakannya. Adapun pengharaman, atau terjadinya makruh pada apa yang ditinggalkan, maka tidaklah demikian. Terlebih lagi terhadap masalah-masalah yang ada dasarnya secara global dari syar`i, seperti: berdo`a.

Berkata Ibnu Al `Araby:

Bukanlah bid`ah dan sesuatu yang baru menjadi tercela, karena adalanya kalimat “muhdatsah (baru)”, kalimat “bid`ah” dan makna dari dua kalimat tersebut. Adapun yang dicela dari bid`ah, adalah apa saja yang bertentangan dengan sunnah. Sedangkan yang dicela dari muhdatsah (perkara-perkara yang baru) adalah semua yang menyebabkan kepada dhalalah (kesesatan).

.

Mungkin diperlukan link: Bid’ah dalam diagram venn.

wallahu a’lam.

6 thoughts on “Penjelasan Hadits Tentang Bid’ah Dhalalah (sesat)

  1. artinya, dengan membuat bermacam-macam jenis bid’ah maka hadits Rasulullah bahwa setiap bid’ah adalah sesat tidak berlaku lagi…karena berdasarkan pembahasan berarti ‘tidak setiap bid’ah sesat’… yang satu bilang ‘setiap’, yang satu bilang ‘tidak setiap’… masing-masing tidak mungkin bersatu seperti minyak dan air…tinggal pilih yang mana ?

    • Wa’alaikumussalam. Wr. Wb. maaf baru ol lg. Menarik sekali pertanyaan saudara, bgn, ini ada jawaban yang mana saudara bisa simak baik-baik dan sekaligus memilih mana yang nantinya saudar bisa pegang:

      Bid’ah merupakan sebuah kata yang tidak asing bagi kita semua. Ia berhubungan dengan banyak hal di dalam islam. Sayangnya, banyak orang yang belum memahami makna bid’ah dengan benar. Sehingga, tidak jarang mereka terjebak dalam perselisihan. Sebenarnya, para ulama telah menjelaskan permasalahan ini dengan jelas, hanya saja kita kurang mempelajarinya. Dalam bab ini akan kami sampaikan uraian singkat tentang bid’ah, dengan harapan tidak terjadi lagi salah pemahaman terhadapnya. Semoga Alloh membukakan pintu hati kita untuk mengetahui kebenaran. Amin.

      Arti bid’ah Secara Bahasa
      Dalam berbagai kamus bahasa Arab, kita dapat menemukan arti bid’ah secara bahasa dengan mudah. Dalam kamus Al-Munjid disebutkan : “Bid’ah adalah sesuatu yang diadakan tanpa adanya contoh terlebih dahulu“.
      Pada dasarnya, semua kamus bahasa Arab mengartikan bid’ah secara bahasa sebagai sebuah perkara baru yang diadakan atau diciptakan tanpa adanya contoh terlebih dahulu. Penciptanya disebut Mubtadi’ atau Mubdi’. Langit dan bumi dapat juga disebut sebagai bid’ah, sebab keduanya diciptakan oleh Allah SWT tanpa adanya contoh terlebih dahulu. Didalam Al-Quran Allah mewahyukan :
      Badii’ussamaawaati wal ardhi
      Alloh Pencipta langit dan bumi (tanpa contoh). (Al-Baqoroh, 2:117)

      Arti Bid’ah Secara Istilah Agama

      Sebuah Hadist tidak cukup sebagai dasar untuk menetapkan arti bid’ah. Kita harus mempelajari semua Hadist yang berkaitan dengannya. Tentunya tidak semua orang memiliki waktu dan pengetahuan yang cukup untuk melakukannya. Alhamdulillah, para ulama telah bekerja keras untuk merumuskan dan menjelaskan segala hal yang berhubungan dengan bid’ah. Dalam bab ini, kami akan sampaikan pendapat Imam Syafi’i rhm, seorang ulama ternama yang keilmuan dan kesalehannya diakui oleh dunia sejak dahulu hingga saat ini.

      Pendapat Imam Syafi’i rhm
      Imam Syafi’i rhm berpendapat bahwa bid’ah terbagi menjadi dua, yaitu bid’ah hasanah (baik) dan bid’ah sayyi’ah (buruk) atau bid’ah mahmudah (yang terpuji) dan bid’ah madzmumah (yang tercela). Pendapat beliau ini berlaku bagi semua hal baru yang terjadi setelah zaman Rosululloh saw. dan zaman Khulafaur Rasyidin. Harmalah bin Yahya menyatakan bahwa beliau mendengar Imam Syafi’i rhm berkata :
      “Bid’ah itu ada dua, bid’ah mahmudah (yang terpuji) dan bid’ah madzmumah (tercela). Bid’ah yang sesuai dengan sunah adalah bi’dah yang terpuji. Sedangkan yang bertentangan dengan sunah adalah bid’ah yang tercela.”
      Rabi’ ra menceritakan bahwa imam syafi’i rhm berkata :
      “Hal-hal baru (muhdatsat) itu ada dua. Pertama, hal baru yang bertentangan dengan Al-Quran, Sunah, Atsar maupun Ijma. Inilah bid’ah yang sesat. Kedua, segala hal baru yang baik dan tidak bertentangan dengan Al-Quran, Sunah, Atsar maupun Ijma. Hal baru ini merupakan bid’ah yang tidak tercela.”

      Pembaca yang budiman, anda mungkin bertanya, mengapa Imam Syafi’i rhm berpendapat demikian, sedangkan Rasulullah saw telah bersabda:
      “Barang siapa diberi hidayah oleh Allah, maka tiada siapapun yang dapat menyesatkannya. Dan barang siapa disesatkan oleh Allah, maka tiada siapapun dapat memberinya hidayah (Petunjuk). Sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad dan seburuk-buruk perkara adalah muhdatsat (hal-hal baru), dan semua muhdats (yang baru) adalah bid’ah dan semua bid’ah adalah sesat dan semua yang sesat tempatnya adalah di neraka.”(HR Nasa’i)
      Hadist diatas memang benar, tetapi kita tidak boleh tergesa-gesa memutuskan bahwa semua bid’ah itu sesat. Untuk dapat memahaminya dengan benar, kita harus mengkaji semua Hadist yang berhubungan dengannya. Sehingga, kita tidak terjerumus pada penafsiran yang salah. Di bawah ini akan coba kami jelaskan makna dari Hadist diatas, semoga Alloh melapangkan hati kita untuk memahaminya dengan benar. Amin.
      Penjelasan Pertama
      Saudaraku, untuk dapat memahami sebuah ayat dengan benar kita harus mempelajari sebab turunnya ayat tersebut dan juga bagaimana penafsiran para ulama tentangnya. Begitupula ketika hendak memahami sebuah hadist, kita harus bertanya kepada para ulama. Sesungguhnya tidak semua ayat atau hadist dapat diartikan secara langsung sesuai dengan makna lahiriahnya atau teks yang tertulis. Orang yang bersikukuh hanya mau memahami sebuah ayat atau hadist sesuai dengan teks yang tertulis (makna lahiriahnya), dan tidak mau menerima penafsiran para ulama, suatu saat ia akan mengalami kebingungan. Hadist tentang bid’ah diatas merupakan salah satu Hadist yang memerlukan penafsiran. Jika kata semua bid’ah tidak ditafsirkan, maka apa yang akan terjadi ? kita semua akan masuk neraka, sebab kehidupan kita dipenuhi dengan bid’ah. Cara berpakaian, berbagai jenis perabotan rumah tangga, sarana transportasi, pengeras suara, permadani yang terhampar di masjid-masjid, lantai masjid yang terbuat dari marmer, penggunaan sendok dan garpu, hingga berbagai kemajuan tehnologi lainnya, semua itu merupakan hal baru yang tidak pernah ada dizaman Rosul saw dan para sahabat beliau. Semuanya adalah bid’ah dan Rosululloh saw. menyatakan bahwa semua bid’ah adalah sesat dan semua yang sesat tempatnya adalah neraka.
      Ketika dihadapkan pada pertanyaan seperti ini, jawaban apa yang akan diberikan oleh mereka yang hanya berpegang pada makna lahiriah Hadist bid’ah. Dalam Hadist tersebut Rosululloh saw tidak menjelaskan hal baru apa yang sesat, beliau menyatakan semuanya sesat. Sehingga, jika Hadist tersebut dipahami secara langsung dan tidak ditafsirkan, semua hal baru dalam permasalahan dunia maupun agama adalah sesat dan pelakunya masuk neraka.
      Ternyata, setelah dihadapkan pada pertanyaan seperti ini, mereka akan mengatakan bahwa semua yang tersebut diatas, seperti permadani yang terhampar di masjid, pengeras suara, berbagai sarana transportasi dan lain sebagainya adalah bid’ah dunyawiyyah (duniawi). Bid’ah seperti ini tidak sesat, yang sesat hanyalah bid’ah dalam bidang agama atau yang biasa disebut dengan bid’ah diniyyah (keagamaan).
      Sungguh aneh bukan, jika sebelumnya mereka bersikukuh pada makna lahiriah Hadist yang menyatakan bahwa semua bid’ah adalah sesat, serta menganggap pembagian bid’ah menjadi bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah sebagai sesuatu yang dipaksakan dan bertentangan dengan Hadist Rosululloh saw, kini mereka sendiri membagi bid’ah itu menjadi dua, bid’ah keduniaan dan bid’ah keagamaan.

      Saudaraku, jika mereka boleh membagi bid’ah menjadi dua : bid’ah keduniaan dan bid’ah keagamaan, padahal Rosululloh saw tidak pernah melakukannya, maka para ulama besar seperti Imam Syafi’i rhm pun boleh membagi bid’ah menjadi bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah.
      Mari kita berpikir jujur, ternyata semua ulama didunia ini telah menjelaskan arti bid’ah dan membaginya sesuai dengan hasil ijtihad mereka. Inilah salah satu alasan kami menerima pembagian bid’ah menjadi bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah.
      Penjelasan Kedua
      Saudaraku, diatas telah dijelaskan bahwa tidak semua Hadist dapat dicerna langsung. Ada beberapa Hadist yang perlu dijelaskan dan ditafsirkan, dan salah satunya adalah Hadist tentang bid’ah tersebut. Hadist kullu bid’atin dhalaalatun merupakan Hadist yang bersifat umum. Dalam Hadist seperti ini biasanya terdapat kata atau kalimat yang tidak disertakan, tidak diucapkan, tetapi telah dipahami oleh pembaca atau pendengarnya. Hadist kullu bid’atin dhalaalatun mirip dengan beberapa Hadist dibawah ini :
      Laa yu’minu akhadukum khatta yukhibba liakhiihi maa yukhibbu linafsihi.
      ”Tidak beriman salah seorang diantara kalian sebelum ia mencintai untuk saudaranya seperti ia mencintai untuk dirinya sendiri.“ (HR Bukhari, Tirmizdi, Nasa i, Ibnu Majah dan Ahmad).
      Laisa minnaa manlam yataghonna bil quraaani.
      “Bukan dari golongan kami seseorang yang tidak membaca Al-Quran dengan suara yang baik (merdu).“ (HR Bukhari, Abu Dawud, Ahmad dan Darimi)
      Alwitru khaqqun faman lamyuutir falaisa minnaa.
      ”Sholat witir itu benar, maka barang siapa tidak menunaikan sholat witir, ia bukan dari golongan kami.“ (HR Abu Dawud dan Ahmad).
      Laa wudhuua liman lam yadzkurismalloohi ‘alaihi.
      “Tidaklah berwudhu seseorang yang tidak menyebut nama Alloh dalam wudhunya.“
      (HR Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad dan Darimi).
      Jika kata tidak dan bukan dari golongan kami dalam beberapa Hadist diatas tidak dijelaskan, tidak ditafsirkan, lalu bagaimana nilai wudhu kita, bagaimana nilai bacaan Al-Quran kita, bagaimana kedudukan kita dalam Islam ? Nabi menyatakan, “Bukan dari golongan kami.“ Jika tidak berada dalam golongan Nabi dan para sahabatnya, kita berada dalam golongan (kelompok) siapa ? Oleh karena itu, Hadist di atas dan sejenisnya, perlu dan harus ditafsirkan dengan Hadist lain, sehingga kita tidak salah memahami ucapan Nabi Muhammad saw. Para ulama menyatakan bahwa kata “tidak” dalam Hadist di atas artinya adalah “tidak sempurna“. Dalam Hadist itu ada kata “Sempurna“ yang tidak diucapkan oleh Nabi saw karena telah dipahami oleh para sahabat. Sedangkan kata, “Bukan dari golongan kami“ artinya “Bukan dari golongan terbaik kami“. Dalam Hadist ini terdapat kata “Terbaik“ yang juga tidak diucapkan oleh Nabi saw karena telah dipahami oleh para sahabat.

      Para ulama menjelaskan bahwa dalam Hadist kullu bid’atin dhalalatun juga terdapat kalimat yang tidak diucapkan oleh Nabi saw, namun telah dipahami oleh para sahabat. Kalimat itu terletak setelah kata “Bid’atin“ dan bunyinya adalah :

      ”yang bertentangan dengan syariat.“
      Coba anda perhatikan kalimat yang terletak di dalam tanda kurung berikut :
      “Semua bid’ah (yang bertentangan dengan syariat) adalah sesat dan semua yang sesat tempatnya adalah di neraka. “ini juga alasan kami mengapa pendapat Imam Syafi’i di atas kami terima.

      Penjelasan Ketiga
      Dalam Hadist di atas, Rosululloh saw menyatakan bahwa kullu bid’atin dhalalatun, yang jika diterjemahkan secara tekstual (sesuai dengan makna lahiriahnya) akan berarti semua bid’ah adalah sesat. Yang menjadi pertanyaan, benarkah kata kullu selalu berarti semua ?
      Di dalam Al-Quran terdapat beberapa kata kullu yang pada kenyataannya tidak berarti semua, coba perhatikan wahyu Alloh berikut :
      Yudammiru kulla syaiin biamri robbihaa fa asbakhuu laayuroo illaa masaa kinuhum kadzaalika najziil qoumal mujrimiin.
      “(Angin) yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali tempat tinggal mereka. Demikianlah kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa.” (Al-ahqof, 46:25).

      Dalam ayat di atas Alloh menggambarkan bagaimana angin menghancurkan segala-galanya sehingga orang-orang kafir tersebut terkubur didalam bumi. Kendati disebutkan bahwa angin tersebut menghancurkan kulla syai’in (segala sesuatu), ternyata rumah orang-orang kafir tersebut tidak ikut hancur. Ini membuktikan bahwa kata kullu tidak selalu berarti semua. Dalam ayat diatas, rumah orang-orang kafir yang tidak hancur tersebut merupakan salah satu pengecualian.
      Begitu pula dalam hadist “Kullu bid’atin dhalalatun,” disana ada sesuatu yang dikecualikan. Rosululloh saw bersabda :
      Man akhdatsa fii amrinaa haadzaa maalaisa minhu fahuwa roddun.
      “Barang siapa membuat sesuatu yang baru dalam masalah (agama) kami ini, yang tidak bersumber darinya (agama), maka dia tertolak.“ (HR Muslim, Ibnu Majah dan Ahmad).
      Pehatikan kalimat “Yang tidak bersumber darinya (agama)“. Inilah kalimat yang menjelaskan bahwa tidak semua bid’ah sesat. Berdasarkan sabda Rosululloh saw di atas, maka Hadist “Kullu bid’atin dhalalatun,“ dapat diartikan sebagai berikut : Semua bid’ah itu sesat kecuali yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunah.”
      Penjelasan ini mungkin belum meyakinkan kita semua, oleh karena itu, mari kita coba untuk menyimak penjelasan berikutnya.

      Penjelasan Keempat
      Setelah memahami keterangan di atas, mari kita pelajari arti muhdatsat (hal-hal baru) dalam Hadist sebelumnya. Para ulama menyatakan bahwa kata muhdatsat (hal-hal baru) dalam Hadist tersebut artinya adalah segala hal baru yang tidak sesuai dengan Al-Quran dan Hadist Nabawi. Pernyataan ini didukung oleh beberapa Hadist. Coba anda simak sabda Rosululloh saw berikut :
      Wamanibtada’a bid’ata dholaalatin laaturdhillahu warosuulahu kaana ‘alaihi mislu aaatsaami man ‘amila bihaa laayanqusu dzaalika min auzaarinnaasi syaian
      “Dan barang siapa mengadakan sebuah bid’ah dhalalah (sesat), yang tidak diridhoi Alloh dan RosulNya, maka dia memperoleh dosa sebanyak dosa orang yang mengamalkannya tanpa sedikit pun mengurangi dosa-dosa mereka. “ (HR Tirmidzi)
      Dalam Hadist di atas disebutkan, “Barang siapa mengadakan sebuah bid’ah dholalah (yang sesat)”. Hal ini menunjukan bahwa tidak semua bid’ah sesat, kalau semua bid’ah itu sesat, tentu beliau saw akan langsung berkata : “Barang siapa mengadakan sebuah bid’ah.“
      Dan tidak akan menambahkan kata dhalalah dalam sabdanya tersebut. Dengan menyebut kalimat “bid’ah dhalalah (yang sesat), “maka logikanya ada bid’ah yang tidak dholalah (yang tidak sesat).Disamping itu, dalam sabdanya yang lain, Rosululloh saw bersabda : Man ahdatsa fii amrinaa haadzaa maa laisa fiihi fahuwa roddun.
      “Barang siapa membuat sesuatu yang baru dalam masalah (agama) kami ini, yang tidak terdapat di dalam agama, maka ia tertolak.“ (HR Bukhari dan Abu Dawud)
      Man ahdatsa fii amrinaa haadzaa maa laisa minhu fahuwa roddun.
      “Barang siapa membuat sesuatu yang baru dalam masalah (agama) kami ini, yang tidak bersumber darinya (agama), maka dia tertolak.“ (HR Muslim, Ibnu Majah dan Ahmad).
      Coba perhatikan, dalam Hadist di atas Rosululloh saw menambahkan kalimat “Yang tidak bersumber dari agama” dan kalimat “Yang tidak terdapat dalam agama“. Akankah sama jika kalimat tersebut di hilangkan. Coba perhatikan perbedaan keduanya (yang masih utuh dengan yang sudah dipotong)
      “Barang siapa membuat sesuatu yang baru dalam masalah (agama) kami ini, yang tidak bersumber dari (agama), maka dia tertolak.”
      Bandingkan dengan kalimat berikut :
      “Barang siapa membuat sesuatu yang baru dalam masalah (agama) kami ini, maka dia tertolak.”
      Jika kita perhatikan dengan baik, kedua kalimat di atas sangat berbeda. Kalimat pertama memberitahukan bahwa hal yang baru yang tidak bersumber dari agama saja yang ditolak sedangkan kalimat kedua menyatakan bahwa semua yang baru di tolak.
      Kini jelaslah bahwa penambahan kalimat “Yang tidak bersumber darinya (agama).“ merupakan bukti bahwa tidak semua yang baru sesat. Hanya hal baru yang tidak bersumber dari agama sajalah yang sesat. Andaikata semua hal yang baru adalah sesat, tentu Nabi saw tidak akan menambahkan kalimat tersebut. Beliau saw akan langsung berkata. “Barang siapa membuat sesuatu yang baru dalam masalah (agama) kami ini maka ia akan tertolak,“ tetapi hal ini tidak Beliau lakukan.
      Kesimpulannya, selama hal baru tersebut bersumber dari Al-Quran atau Hadist, maka dia dapat di terima oleh agama, diterima oleh Alloh dan diterima oleh Rosul-Nya saw.

      Penjelasan Kelima
      Rupanya pemahaman bahwa tidak semua bid’ah itu sesat telah dipahami oleh para sahabat. Bahkan seorang sahabat terkemuka, Khalifah kedua dalam islam, Amirul Mukminin Umar bin Khaththab ra pernah mencetuskan istilah bid’ah baik untuk sebuah amalan yang beliau susun, yaitu shalat tarawih berjamaah di Masjid selama bulan ramadhan dengan seorang imam yang hapal Al-Quran. Imam Bukhari ra. dalam kitab Sahihnya menyebutkan :
      Dari Abdurrohman bin Abdul Qari, ia berkata, “Pada suatu malam di bulan ramadhan, saya keluar menuju masjid bersama Umar bin Khaththab ra. Di sana (tampak) masyarakat sedang menunaikan sholat (tarawih) secara berkelompok terpisah-pisah . Ada yang sholat sendiri ada pula yang sholat berjamaah bersama sekelompok orang. Pada saat itulah Umar ra. berkata, ‘Menurutku, andaikata semua orang ini kupersatukan dibawah pimpinan seorang imam yang hapal Al-Quran tentu akan lebih baik.’ Beliau bertekat untuk mewujudkan niatnya . Akhirnya beliau persatukan mereka dibawah pimpinan ‘Ubay bin Ka’ab. Di malam lain, aku keluar menuju Masjid bersama Umar ra. Saat masyarakat sedang menunaikan sholat (tarawih) berjamaah dengan imam mereka yang hapal Al-Quran. (Ketika menyaksikan pemandangan tersebut) berkatalah ‘Umar : Inilah sebaik-baik bid’ah.“ (HR Bukhari dan Malik).

      Dengan jelas, di hadapan para sahabat, Sayidina ‘Umar ra mengucapkan, “Inilah sebaik-baik bid’ah.“ Ucapan beliau ini merupakan salah satu bukti bahwa tidak semua bid’ah sesat, hanya bid’ah yang bertentangan dengan Al-Quran dan Hadistlah yang sesat.
      Jika ada orang yang berkata, “Perbuatan Sayidina ‘Umar itu bukan bid’ah, bukankah Rosululloh saw juga melaksanakan sholat tarawih bersama para sahabat ?“ Perlu diketahui memang benar bahwa Rosululloh saw melakukan sholat tarawih bersama para sahabat, tetapi Beliau tidak melakukannya berjamaah selama satu bulan penuh, beliau hanya melakukannya selama dua atau tiga hari (ada perbedaan riwayat). Karena khawatir tarawih tersebut diwajibkan kepada umatnya, disamping itu Rosululloh saw juga tidak membacakan Al-Quran secara urut dari surat Al-Fatihah hingga khatam (sampai surat An-Nas). Lain halnya dengan Sayidina ‘Umar , beliau mengumpulkan para sahabat untuk melalukan sholat tarawih serta memilih seorang imam yang hapal Al-Quran untuk membacanya dari awal hingga khatam. Apa yang beliau lakukan tersebut tidak pernah dilakukan oleh Rosululloh saw sehubungan dengan sholat tarawih. Oleh karena itulah Sayidina ‘Umar mengakui bahwa perbuatannya itu bid’ah, tetapi beliau paham bahwa tidak semua bid’ah itu sesat. Beliaupun menjelaskan bahwa bid’ah yang beliau lakukan, yang memiliki dasar dalam Al-Quran maupun Hadist, adalah bid’ah yang baik. Buktinya, beliau merasa senang dengan idenya tersebut dan mengucapkan :
      “ Inilah sebaik-baik bid’ah. “

      Penjelasan Keenam
      Rosululloh saw. selalu mendorong umatnya untuk melaksanakan semua perintah Alloh, menjauhi semua larangan-Nya serta menghidupkan selalu sunah-sunah Beliau. Tentunya setiap zaman memiliki cara dakwah tersendiri dan setiap masyarakat memiliki adap yang berbeda. Rosululloh saw memerintahkan kita untuk berbicara dengan manusia sesuai dengan tingkat pemikiran dan pemahamannya . Untuk menghidupkan sunah Rosul saw yang sering kali diabaikan oleh umat islam inilah, para ulama kemudian memunculkan berbagai gagasan dan ide cemerlang yang dapat diterima oleh sebagian besar masyarakat. Gagasan tersebut mereka peroleh setelah mendalami Al-Quran dan Al-Hadist. Meskipun dikemas dalam model atau bentuk baru, tetapi isinya tiada lain adalah Al-Quran dan Al-Hadist. Salah satu contohnya adalah apa yang telah dilakukan oleh sayidina ‘Umar ra diatas . Beliau berupaya menghidupkan sunah Rosululloh saw dengan mempersatukan umat dalam kebaikan. Apa yang dilakukan oleh Sayidina ‘Umar ra serta para ulama lain yang mengikuti jejak beliau ra, tiada lain adalah salah satu upaya untuk mengamalkan sabda Rosululloh saw yang berbunyi :
      “Barang siapa mencontohkan suatu perbuatan baik di dalam islam, kemudian perbuatan tersebut diamalkan (orang lain), maka ia akan memperoleh pahala orang-orang yang mengamalkannya tanpa sedikitpun mengurangi pahala mereka. Dan barang siapa mencontohkan sebuah perbuatan buruk di dalam islam, kemudian perbuatan tersebut diamalkan (oleh orang lain), maka dia memperoleh dosa semua orang yang mengamalkannya tanpa sedikitpun mengurangi dosa-dosa mereka. “
      (HR Muslim, Tirmidzi, Nasai, Ibnu Majah, Ahmad dan Darimi).

      Oleh karena itu, jangan gegabah dan tergesa-gesa menuduh bahwa suatu hal yang tidak ada pada zaman Rosululloh saw dan para sahabat sebagai bid’ah sesat yang harus diperangi. Tetapi, dengan kedewasaan berpikir, marilah kita kaji landasan dan dalil yang mereka gunakan dalam kegiatan keagamaan tersebut. Jika memang tidak bersumber dari Al-Quran dan Al-Hadist, mari bersama-sama kita dakwah dengan cara yang bijaksana dan nasihat yang baik. Dan jika memang ada sumbernya dari Al-Quran dan Al-Hadist, mari kita dukung bersama sebagai sarana untuk menghidupkan ajaran Al-Quran dan sunah Rosululloh saw.

      Pembagian Bid’ah Menjadi Lima
      Secara umum bid’ah memang ada dua, yaitu bid’ah hasanah dan bid’ah sayy’iah. Akan tetapi, kita semua tahu bahwa tidak semua yang baik itu wajib dan tidak semua yang buruk itu haram, ada yang bersifat sunah ada pula yang mubah dan makruh. Begitu pula dalam permasalahan bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah, ada beberapa ulama yang membaginya menjadi lima bagian, di antaranya adalah Imam Nawawi ra. Beliau berkata :
      Qoolal ‘ulamaa’u albid’atu khomsatu aqsaamin waajibatun wamanduubatun wamukharromatun wamakruuhatun wamubaahatun.
      “Para ulama menyatakan bahwa bid’ah itu terbagi menjadi lima, yaitu bid’ah wajib, bid’ah mandub (sunah), bid’ah haram, bid’ah makruh dan bid’ah mubah.“

      Bid’ah Wajib
      =Bid’ah wajib, adalah bid’ah yang harus dilakukan demi menjaga terwujudnya kewajiban yang telah ditetapkan Alloh SWT.
      Diantaranya adalah :
      1. Mengumpulkan ayat-ayat Al-Quran menjadi satu Mushaf demi menjaga keaslian Al-Quran, karena telah banyak penghapal Al-Quran yang meninggal dunia, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Khalifah Abu Bakar dan ‘Umar ra.
      2. Memberi titik dan harakat (garis tanda fathah, kasrah dan dzamma pada huruf-huruf Al-Quran). Pada zaman Rosul saw maupun Khulafaur Rasyidin ra, Al-Quran ditulis tanpa titik dan harakat. Pemberian harakat dan titik baru dilakukan pada masa Tabi’in. Tujuannya adalah untuk menghindari kesalahan baca yang dapat menimbulkan salah pengertian dan penafsiran.
      3. Membukukan Hadist-Hadist Nabi Muhammad saw sebagaimana yang telah dilakukan oleh Imam Bukhari, Muslim, dan ahli Hadist lainnya.
      4. Menulis buku-buku tafsir Al-Quran demi menghindari salah penafsiran dan untuk memudahkan masyarakat memahami Al-Quran.
      5. Membuat buku-buku fiqih sehingga hukum agama dapat diterapkan dengan baik dan mudah.

      Bid’ah Haram (Dhalalah)
      Bid’ah haram adalah semua bid’ah yang bertentangan dengan Al-Quran dan Hadis Nabawi, diantaranya adalah :
      1. Menganggap seorang muslim yang berbeda aliran dengannya sebagai najis. Padahal, dalam Al-Quran orang kafir pun jasadnya tidak najis, sehingga Nabi saw pernah mengikat seorang tawanan didalam masjid.
      2. Menambah atau menguragi isi Al-Quran.
      3. Sholat tidak dengan bahasa Arab.
      4. Membuat haji tandingan, yaitu menunaikan haji bukan ke tanah suci, tetapi ke lokasi tertentu yang dekat dengan daerahnya karena menganggap tanah suci terlalu jauh dan biayanya terlalu besar.
      5. Membangun masjid dengan uang haram.
      6. Menghadiri peringatan Natal dan sejenisnya.
      7. Memiliki istri lebih dari empat.
      8. Menikah dengan penganut agama lain.
      Bid’ah Sunah
      Bid’ah sunah adalah semua bid’ah yang sesuai dengan Al-Quran dan bersifat menghidupkan sunah Nabi saw, diantaranya adalah :
      1. Menyelenggarakan sholat Tarawih selama satu bulan penuh.
      2. Menambahkan adzan pertama dalam sholat jum’at. (dimulai oleh Khalifah Ustman bin Affan).
      3.Menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi saw dan hari-hari besar lainnya dengan cara-cara yang tidak bertentangan dengan syariat.
      4. Menyelenggarakan pengajian rutin di hari dan jam tertentu.
      5. Berjabat tangan sesudah shalat.
      6. Membentuk organisasi-organisasi keagamaan.
      7. Khutbah Jum’at dengan bahasa Arab pada rukunnya saja dan setelah itu menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa lainnya sehingga makna khutbah dapat dipahami oleh pendengar.
      8. Membuat program Al-Quran dalam CD.
      9. Mendirikan pesantren dan sarana pendidikan islami lainnya.
      Bid’ah Makruh
      Bid’ah makruh adalah semua bid’ah yang berhubungan dengan hukum makruh, di antaranya adalah : Membaca basmalah ketika akan merokok.

      Bid’ah Mubah
      Bid’ah mubah adalah bid’ah yang tidak bertentangan dengan Al-Quran dan Hadist tidak pula dianjurkan oleh keduanya. Di antaranya adalah membuat makanan yang lezat-lezat, membuat rumah yang luas dan besar, menunaikan ibadah haji menggunakan pesawat udara, melancong ke luar negeri dan lain sebagainya.
      Demikian semoga bermanfaat, Amin Ya Robbal ‘alamin.

  2. jika kullu bid’atin dholalalh diartikan “kebanyakan bid’ah sesat” berarti ada bid’ah yg tdk sesat.
    maka
    kullu dholalatin finnar bisa diartikan “kebanyakan kesesatan itu neraka “? berarti ada pula kesesatan yg tidak ke neraka ????

    • Maaf baru dijawab pertanyaannya, gini yang namanya kesesatan itu semua akan masuk ke dlm neraka. Tapi kita harus kuasai dulu tentang ilmu hadits kenapa Rasulullah mengatan الضلالة فى النار setiap kesesatan masuk kedalam neraka apakah hadits ini diperuntukkan bagi sahabat yg memushabkan al qur’an atau kepada para tabi’in yang memberikan baris pada tiap2 huruf? Untuk lebih jelasnya saudara bisa baca di buku 40 masalah agama oleh kh. Sirajuddin abbas. Sebab saya minta maaf ngga ada kesempatan banyak

  3. bukankah membukukan Al Qur’an adalah tindakan Sahabat r.a yang tidak ditentang oleh sahabat yang lain? dan bukankah hal itu dinamkan ijtihad?? lagipula membukukan Al-Qur’an bukankah salah satu bentuk penjagaan Allah terhadap kitab-Nya dan salah satu bentuk realisasi dari firman Allah yang berbunyi “inna nahnu nazzalna dzikra wa inna lahu lahafidzun”? lau apa hubungannya dengan bid’ah? syukron

    • silahkan saudara baca dengan baik, sebab yang namanya perkara yang tidak pernah di lakukan Rasulullah Saw. adalah perkara bid’ah nah sedangkan mengumpulkan Al- Qur’an itu adalah perkara yang tidak perna di perintahkan Rasulullah Saw. sampai Beliau wafat. nah karena ada diantara sahabat khulafau-raasyidin yang berpikir kalau al- qur’an tidak disatukan, maka bagai mana keadaan ummat islam yang akan datang??? nah dengan demikian dipanggillah said bin zabit untuk mengumpulkannya akan tetapi zaid bin zabit, takut karena hal ini tidak perna diperintahkan Rasullah dst… nah persoalannya adalah mengumpulkannya itu termasuk bid’ah apa??? ini yang harus saudara baca artikel saya itu. syukran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s