Makna Dzikir, Do’a Dan Tawassul

RIYADHOH BATINIYYAH

Kamis, 12. Mei 2011,06, 50

BAGIAN PERTAMA

Makna Dzikir Do’a dan Tawassul

A. Dzikir

dzikir adalah bentuk masdar dari lapadz dzakara yadzkuru dzikran yanga artinya menyebut atau mengingat. Secara substansi makna dzikir adalah mengingat atau menyebut nama Allah Swt dalam rangka ibadah kepada-Nya. Aktivitas dzikir dapat dilakukan dengan lisan dengan pengucapan, maupun badan dalam bentuk perbuatan-perbuatan yang diperintah oleh Allah Swt, seperti shalat melalui gerakannya, zakat, haji dan ahlakul karimah, serta menjauhi semua pebuatan yang di larang-nya. Seperti perbuatan zinah, meminum-minuman keras, judi dan perbuatan-perbuatan yang melanggar batasan Alllah swt, yang intinya menjaga diri untuk untuk ingat kepada Allah swt, serta tidak lalai sedikitpun untuk mengingatnya. Aktifitas dzikir yang di lakukan melalui ucapan dapat di ungkapkan melalui banyak membaca kalimat-kalimat toyyibah seperti bacaan Al-Qur’an, Doa, Tasbih, tahmid, Takbir, Tahlil dsb.

Aktifitas dzikir dengan pengucapan dapat kita rujuk dalam Al-Qur’an (24:36) yang memvisualisasikan bentuk dzikir dengan pelapalan dimana Allah Swt memerintahkan untuk bertasbih di masjid-masjid kepada seorang laki-laki yang tidak di lalaikan oleh perniagaan dan tidak pula oleh jual beli dari mengingat Allah, dan dari mendirikan shalat juga dari membayar zakat, dan dia merasa takut kepada suatu hari yang pada hari itu hati dan penglihatan menjadi goncang. Alloh Swt berfirman :

في بيوت أذن الله ان ترفع ويذكر فيها اسمه. يسبح له فيها بالغدو والاصال

Artinya : “Bertasbihlah, kepada Allah di masjid-masjid yang telah di perintahkan untuk di mulyakan dan di sebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang.”

Sedangkan aktifitas dzikir yang direalisasikan lewat perbuatan dapat kita rujuk dalam al-Qur’an surat 24:1,37; 29:45; 38:46; yang menggambarkan perintah Allah Swt untuk melakukan hukum syari’at dengan amal perbuatan untuk menjaga kualitas dzikir dan tidak lalai sedikitpun kepada Allah Swt.

Dimasyarakat kita yang notabene mesyarakat religius bekembang komunitas-komunitas dzikir dengan berbagai macam istilah nama, diantaranya istigotsah, manakib, rhatib, aurad, khataman, shalawat, marhaba, dan lain sebagainya yang kesemuanya merupakan aktifitas dzikir yang biasa dilakukan oleh sebagian masyarakat dengan cara pengucapan sebagai media dalam mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Dzikr tidak hanya dilakuakan oleh manusia sebagai mahluk yang sempurna, yang diciptakan oleh Allah Swt, seluruh mahluknyapun semua berdzikir kepadanya baik yang tercipta di langit maupun yang di bumi dengan cara yang bebeda dan mereka mengetahui cara sembahyang dan tasbihnya. Dalam al-Qur’an (24:41) Allah Swt berfirman :

ألم ترى ان الله يسبح له من في السموات والأرض والطير صفت. كل قد

علم صلاته وتسبيحه. والله عليم بما يفعلون

Artinya : Tidakkah kamu tahu bahwasanya Allah Swt: kepadanya bertasbih apa yang dilangit dan di bumi dan (juga) burung yang mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.

Fungsi dan keutamaan Dzikir

Dikir adalah menyebut atau mengingat Alah Swt sebagai amalan ibadah baik dalam posisi berdiri, duduk, atau berbaring, atau dalam semua aktifitas lainya dengan niat mendekatkan diri kepada Allah Swt. Oleh karenanya orang yang senantiasa menjaga amalan dzikirnya akan selalu terjaga dari perbuaan fahisah dan munkarat dan dengan sendirinya akan tercermin sikap ihsan, merasa diri dilihat dan diawasi oleh Allah Swt sehingga tidak akan berani untuk melanggar perintahnuya. Orang yang bersikap ihsan memandang bahwa dalam semua aktifitas hidupnya merasa dilihat dan di awasi oleh Allah Swt, atau setidaknya sekalipun tidak mampu dalam dirinya untuk merasa kehadiran Allah Swt maka ia akan selalu mempuyai anggapan bahwa Allah Swt senantiasa mengawasi dalam setiag gerak langkah seta hembusan nafasna. KH. M Qurais Shihab dalam kitab tafsirnya, Al-Misbah menafsirkan makna ihsan yang terambil dari lapadz muhsinin dalm surat al-Maidah ayat 85 dengan mengatakan “ihsan lebih tinggi dan dalam kandungan maknanya di bandingkan dengan adil, karena ihsan memperlakukan orang lain lebih baik dari perlakuannya terhadap anda. Adil adalah mengambil semua hak anda dan atau memberi semua hak orang lain, sedang ihsan adalah meberi lebih banyak dari pada yang harus di terimanya dan mengambil darinya lebih sedikit dari yang seharusnya diambil.

Dzikir tidak di batasi kepada waktu tertentu, namun lebih utamn ketika duduk setelah melaksanakan shalat (QS 4:103), tidak terbatas pada tempat namun diutamakan di masjid (QS 24:36) dan ketika duduk di tengah majelis. Imam Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin Jil. 1 hal. 297 mengutip sebuah hadits Rasul :

Artinya : “Tidaklah duduk suatu kaum dalam sebuah majelis sambil mengingat Allah melainkan mereka di kelilingi malaikat dan diliputi rahmat serta Allah meneyebut mereka diantara malaikat disisinya”.

Dzikr tidak dibatasi pada banyaknya jumlah, karena Allah Swt. Berfirman “berdzikrlah kamu kepada Allah, dengan dzikir yang sebanyak-sebanyak”. Adapun dengan metode hitungan atau ukuran tertentu berfungsi untuk menentukan perpindahan dari bacaan kalimat dzikir satu kepada kalimat yang lain, serta sebagai metode latihan untuk mendisiplinkan diri. Syekh Khaery mengatakan : “ukuran-ukuran itu sebuah metode, ibarat sekolah terdapat kelas-kelas, tahapan-tahapan, jenjang-jenjang yang harus dilalui”. Begitu pula dengan dzikir yang menggunakan metode hitungan dengan jumlah tertentu, merupakan sarana latihan dalam mendisiplinkan diri, ketika lulus dan mampu kita tidak membutuhkan lagi ukuran-ukuran itu dan dzikir dapat dilangsungkan kapan dan dimana saja.

B. Do’a

Ditinjau dari segi bahasa lapadz doa terambil dari akar kata da’a, yad’u dua’an’’ yang artinya memanggil atau memohon. Syekh Ibnu Ajzurum yang mempunyai nama lengkap Syekh Abi Abdillah Muhammad bin Muhammad As-Sanhaji mengartikan lapadz do’a dengan ’’thalabu al-fi’li minal adna ila al-‘ala’’ yang artinya meraih atau meminta sesuatu dari tingkatan yang lebih rendah kepada tingkatan yang lebih tinggi, seperti permintaan karyawan kepada pimpinan perusahaannya, permintaan anak kepada orang tuanya, atau bahkan permintaan makhluk kepada Tuhannya. Sedangkan lawan kata dari do’a adalah amar. Syekh Ibnu Ajzurum mendefinisikan amar kebalikan dari defenisi do’a yaitu dengan mendefinisikan “thalabu a-l fi’ili minal ‘ala ila al-adna’’ yang artinya meraih atau meminta dari tingkatan derajat yang lebih tinggi kepada tingkatan yang lebih rendah. Amar lebih identik dengan perintah atau suruhan

Namun pada perkembangannya makna do’a lebih mengarah kepada aktifitas ritual keagamaan sebagai sarana interaksi seseorang untuk meminta penyelesaian dari permasalahan-permasalahan kehidupan yang dihadapinya atau meminta kesejahteraan dari sesuatu yang diyakini dapat memenuhi kebutuhannya. Umat islam meyakini bahwasanya Dzat yang dapat memenuhi kebutuhannya adalah Allah Swt sebagai Rab Semesta Alam. Al-qur’an dalam surat al-Rad ayat 14 menjelaskan bahwasanya hanya Allah dengan Keindahan dan Keluhungan nama-Nya al-Muzib yang berhak memperkenankan do’a dari seorang hamba-Nya. Sedangkan do’a yang dipanjatkan kepada selain Allah tidak seorangpun yang dapat memperkenankannya dan tidak akan memberikan dampak kemanfaatan atau kemadharatan sekalipun.

له دعوة الحق. والذين يدعون من دونه لا يستجيبون لهم بشيء الا كباسط كفيه

الى الماء ليبلغ فاه وما هو ببالغه. وما دعاء الكفرين الا فى ضلل.

Artinya: ”hanya bagi Allahlah (hak mengabulkan doa yang benar). Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatupun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya kedalam air itu tidak dapat sampai kemulutnya. Dan doa (ibadat) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka”.

Fungsi dan Manfaat Do’a

Do’a adalah otaknya dalam ibadah, dengan do’a seseorang akan ma’rifat terhadap dirinya sekaligus kepada rabnya dan ia akan merasa lemah di hadapan Allah dan akan selalu membutuhkan eksistensi Allah terhadap dirinya. Oleh karenanya, seorang muslim menganggap do’a adalah senjatanya dan ia akan senantiasa mengadukan setiap permasalahan kepada rabnya untuk dimintai jalan keluarnya.

Syekh Ibnu Qoyim memberikan stigma dengan puncak kedunguan bagi orang yang mengadukan setiap permasalahannya kepada sesama manusia dan tidak mau mengadukan permasalahannya kepada Rabnya dengan interaksi langsung lewat mediasi do’a. Lebih lanjut beliau mengutip perkataan seorang Salafus salihin dengan mengatakan “Engkau tidak lebih selain mengadukan kepada Dzat yang menyayangimu kepada yang tidak menyayangimu”. Ketika menegur seseorang yang di timpa kesulitan dan musibah kemudian, mengadukan masalahnya pada orang lain. Syekh Ibnu Qoyyim (W 751 H) Murid utama dari Syekh Al-Islam Ibnu Taymiah membagi pengaduan ke dalam Tiga bagian, yaitu pengaduan yang lebih buruk, pertengahan, dan yang paling baik.

1. Pengaduan yang lebih buruk yaitu mengadukan Allah kepada makhluk-Nya

2. Pertengahan, yaitu mengadukan makhluk kepada Allah

3. Yang paling baik, yaitu mengadukan dirinya kepada Rabb-nya

Etika Berdo’a

Sebagaimana telah di singgung di atas, do’a adalah media komunikasi yang dilakukan oleh seorang hamba yang derajatnya lebih rendah kepada Allah Swt yang bersih dari sifat lemah sebagai Tuhan yang dapat memperkenankan do’a seorang hamba yang di panjatkan kepada-Nya. Sedangkan dalam berkomunikasi kepada Tuhan terdapat etika yang harus dipenuhi, agar do’a yang dipanjatkanya dapat di perkenankan oleh Allah Swt sebagaimana halnya etika-etika yang diterapkan oleh manusia. Allah Swt menerapkan etika-etika dalam berkomunikasi atau bedo’a kepadanya antara lain dalam surat al-‘Araf (7:55;56), agar semua hambanya dalam berinteraksi terhadap-Nya harus melakukan aturan main yang di kehendakinya, sebagaimanan di uraikan dalam firmannya :

ادعوا ربكم تضرعا وخفية. انه لا يحب المعتدين. وهو الذى يرسل الريح بشرا

بين يدى رحمته. حتى اذا أقلت سحابا ثقالا سقنه لبلد ميت فأنزلنا به الماء

فأخرجنا به من كل الثمرات. كذلك نخرج الموتى لعلكم تذكرون.

Artinya : “Berdo’alah kepada Tuhan-mu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungghuhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah Allah membperbaikinya dan berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan di terima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahamat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.

Dengan mengutif ayat diatas, ada beberapa etika yang di syaratkan oleh Allah Swt dalam berdo’a atau berinteraksi kepadanya, diantaranya :

1. tadharu’ (berendah diri kepada-Nya),

2. khufyah (suara yang lembut),

3. khauf (rasa takut) tidak akan diperkenankan

4. thama’ (harapan) akan di perkenankan

Dalam kesempatan lain, Allah Swt, menetapkan tambahan syarat-syarat antara lain, agar do’a yang di panjatkanya tidak di tujukan untuk keburukan dan kejahatan. Maksudnya adalah meminta keburukan, kebinasaan, kehancuran dan laknat yang di tujukan kepadanya, sebagaimana Allah berfirman dalam surat al-isra (17:11) :

ويدع الانسان بالشر دعاءه بالخير. وكان الانسان عجولا.

Artinya : “Dan manusia mendo’a untuk kejahatan sebagaimana ia mendo’a untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa”

Ibnu Abbas, Mujahid, dan Qatadah yang dikutif dari tafsir Ibnu Katsir menafsirkan ayat di atas melalui haditsnya :

Artinya : Janganlah kalian mendo’a untuk keburukan diri kalian, jangan pula untuk keburukan harta benda kalian, karena di khawatirkan do’a kalian akan bertepatan dengan sa’atul ijabah, lalu di perkenankan bagi kalian do’a itu.

Kemudian syarat lainnya adalah tawakal, berserah diri kepada Allah Swt. Dengan tidak mengabaikan sebab-sebab dari suatu kejadian. Mengabaikan sebab akibat akan menjatuhkan seseorang pada kemalasan untuk meraih apa yang diinginkannya. Bertawakal tidak dipahami secara pasif dengan menyerahkan sepenuhnya nasib kita kepada Allah Swt tanpa kita aktif untuk meraih rahmatnya. Bertawakal mengharuskan peran aktif kita untuk menyambut, atau meraih rahmat Allah, sebagaimana kita memahaminya dari pelajaran Rasul terhadap sahabatnya untuk mengikat untanya terlebih dahulu kemudia bertawakal. Syekh Khaeri mengatakan “orang yang menyadari sebab-akibat harus berusaha untuk mendapatkan hal yang diinginkannya, dan mengetahui bahwa semua usahanya tak lain hanyalah sebuah do’a yang aktif, harapan akan adanya pertolongan Allah Swt”. Dan itulah sejatinya dari makna tawakal.

Ancaman Bagi Yang Tidak Mau Berdo’a

Dengan do’a seseorang akan merasa lemah di hadapan Allah Swt dan lebih membutuhkan Eksistensi Allah terhadap dirinya. Seseorang yang tidak mau berdo’a kepada Allah Swt, telah menganggap dirinya kuat dan tidak membutuhkan eksistensi Allah Swt terhadap dirinya, yang secara tdak langsung telah tertanam dalam dirinya sifat sombong yang tidak ada haq bagi seorang pun untuk menyandang sifat tersebut kecuali hanya Allah Swt dengan keagungan nama-Nya Al-Kabir. Bukankah Setan di jatuhkan hukuman oleh Allah Swt pada tempat yang paling rendah dikarenakan sifat ketakaburannya. Oleh karenanya, Allah Swt mengecam seseorang yang bersifat sombong, yang enggan meminta kepada-Nya melalui sabda Rosul-Nya : “ Man lam yad’ullaha ghadhaba alaihi”, yang artinya : “Barang siapa yang tidak mau berdo’a kepda Alloh Swt, maka Alloh Swt akan murka kepada-Nya“. Apabila Allah murka kepada kita, bumi mana yang akan kita pijak? semuanya adalah milik Allah Swt dan Allah mempersilakan untuk mencari pijakannya selain bumi dan langit sebagai ciptaan-Nya. Dan mempersilakan pula untuk mencari Tuhan selain diri-Nya. Dalam Hadits Qudsi Allah berfirman : “fal yahruj bainas samawaati Wal Ard fal yatlub Rabban siwaya“ yang artinya : “Keluarlah dari langit dan bumi ini, kemudian carilah tuhan selain Aku “.

C. Tawasul

Lapadz Tawasul terambil dari akar kata wasala (hurup ‘ain fi’ilnya dengan hurup sin) yang mempunyai kemiripan arti dengan lapadz tawashul ‘ain fi’ilnya dengan hurup shad yang artinya menghubungkan. Kemudian terdapat tambahan hurup Ta di awal kalimat dan jenis ‘Ain Fi’il yang di idghomkan yang memberi makna muta’adi pekerjaan Fa’il membutuhkan Maf’ul (objek). Oleh karena nya, makna tawasul adalah sesuatu yang di tuju atau yang akan di raih namun tidak langsung kapada yang di tuju melainkan mengambil perantara melalui objek ataupun media yang dapat menghubungkannya kepada sesuatu yang akan kita tuju.

Dalam surat Al-Maidah, Kita dapat menemukan tawasul dengan lapadz Wasilah yang menginformasikan bahwa Allah Swt memerintahkan kepada orang yang beriman untuk bertaqwa kepada-Nya dan mencari wasilah ( perantara atau penghubung ) dalam meraih taqwa kepada-Nya. Allah Swt berfirman:

يا ايهاالذين أمنوااتقواالله وابتغوا اليه الوسلة وجاهدوا فى سبيله لعلكم تفلحون.

Artinya: “ Hai Orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan. (QS:5:35)

Begitupun dalam berdo’a banyak contoh, dalam al-Qur’an, sunah Rosul maupun Atsar sahabat yang menggambarkan aktifitas tawasul, diantaranya kisah Tsa’labh yang bertawasul kepada Rosul Saw untuk minta di do’akan kepada Allah Swt agar mendapatkan kesejahteraan. Dalam al-Qur’an sendiri banyak ayat-ayat yang berhubungan dengan makna tawasul, diantaranya (QS:9:99;40;50;4:64)

Media Untuk Di Jadikan Tawasul

Dalam surat Al-maidah ayat 35 Allah memerintahkan untuk bertawasul kepada kita dalam meraih takwa kepada-Nya. Sedangkan jenis dari tawasul itu sendiri yang terdapat dalam tuntunan ajaran kita (Al-Qur’an dan sunnah ) sangat banyak ragamnya, diantaranya:

1. Berinfak untuk kepentingan agama (QS:9:99,103)

2. Bertawasul dengan amal salih (kisah yang terdapat dalam hadis rasul yang menceritakan tentang para pemuda yang tertahan di sebuah goa, yang di sebabkan pintu goa tertutup oleh batu yang besar, sehingga mereka tidak dapat kembali keluar. Kemudian mereka kembali berdo’a kepada Allah melalui tawasul dengan amal salih yang telah mereka kerjakan. Para pemuda tersebut di perinahkan oleh pimpinan rombongannya untuk mengingat-ingat amal baik apa saja yang telah mereka kerjakan kemudian di jadikan suatu do’a kepada Allah agar melalui amal salihnya pintu goa dapat terbuka dan pada akhirnya do’a merekapun di terima oleh allah SWT ketika secara bergiliran menyebut amal salih yang telah di lakukunnya)

3. Mengikuti jejak langkah para salafu Al-Shalihin (QS:9:100)

4. Mendo’akan muslimin-muslmiat sebagai sebuah kebajikan, karena buah kebajikan akan di balas Allah dengan berlipat-lipat kebajikan.

5. Mendo’akan,atau bershalawat atas nabi, karena nabi telah menjanjikan sekali bacaan shalawat yang di sampaikan kepada beliau akan di balas olehnya dengan 10 kali.

BAGIAN KEDUA

Sekilas Riwayat Penulis Amalan Rhatibul Hadad

Aurad Rhatibul Hadad adalah sebagian amalan dari syekh Imam ‘Abdullah bin ‘Alwi ‘Alhadad yang biasa di amalkan setiap hari oleh beliau. Aurad ini merupakan sebagian dari amalan yang di susun dan di bukukan serta di tulis oleh salah satu murid utama pengarang aurad ini yaitu Al-Alamah Sufi dan Zahid ‘Umar bin Abdurrahman bin ‘Umar bin Muhammad bin ‘Ali Al-Bar. Aurad ini di susun dan di bukukan pada masa hidup pengarangnya yaitu Syekh Imam ‘Abdullah bin ‘Alwi Al-Haddad seorang dari guru besarnya, dan di selesaikan pada hari sabtu 12 Rajab tahun 1131 H. setelah di serahterimakan kepada gurunya (Syekh Imam ‘Abdullah bin ‘Alwi Al-Haddad) memberikan judul atas buku tersebut dengan judul Adz-Dzikir Al-Jami’wa al-Wird An-Nafi’ (Zikir Lengkap Dan Wirid Yang Bermanfaat)

Tulisan buku tersebut memuat amalan-amalan keseharian Syekh Imam ‘Abdullah bin ‘Alwi ‘Al-Haddad seorang tokoh pembaharu abad ke-17 M yang wafat pada permulaan jumad al-ula tahun 1310 H oleh muridnya syekh Imam ‘Umar bin ‘Abdurrahman bin ‘Umar bin Muhammad bin ‘Ali ‘Albar dengan menghadirkan sebuah kitab yang berisi petunjuk yang lurus, lengkap, bemanfaat dan merupakan obat yang mencakup semuanya yang di dalamnya termuat Aurad Rhatibul Hadad

Penulis kitab ini menempati kedudukan yang tinggi dalam bidang ilmu. Kebiasaanya adalah bermukim selama satu minggu di Qarin, satu minggu di Quraibah dan satu minggu beribadah di Syi’ib, sebuah desa kecil dekan Qarin. Disana beliau membangun sebuah masjid untuk beribadah dan mengajar pada setiap senin dan kamis, untuk mata pelajaran hadits, tasawwuf ,dan biografi Rasul. Pada hari-hari yang lain, beliau memberi pelajaran umu lainnya pada waktu antara dzuhur dan maghrib. Beliau melaksanakan haji dan berziarah ke Madinah pada 1143 H dan wafat di Khuraibah pada 30 Rabiul Awal 1158 H. semoga Allah merahmati dan melapangkannya.

BAGIAN KETIGA

Tuntunan Dzikir Bagi Jama’ah Keluarga Bintang Sembilan

Cabang Kota Bandung

A. Do’a Tawasul Yang Biasa di Baca Pada Permulaan Aurad Atau Pembacaan Ayat Suci Al-Qur’an.

B. Rhatibul Hadad

1. Al-Fatihah

2. Ayat Kursi (Al-Baqarah : 255)

3. Amanar Rosulu (Al-Baqarah : 285-286)

4. Laa Ilaaha Illalloohu Wahdahu Laa Syariikalah Lahul Mulku Wa Lahul Hamdu Yuhyi wa Yumiitu wa Huwa ‘Alaa Kulli Syaing Qodiir 3x

“Tiada tuhan selain Allah Yang Esa, tiada Sekutu bagi-Nya, Yang Memili Krajaan dan bagi-Nya Pujian, Yang Menghidupkan dan mematikan. Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”.

5. Subhaanalloh, Walhamdulillah, Walaailaahaillallohu, Wallohu Akbar 3x

“Maha Suci Allah, dan Segala Puji bagi Allah, Tiada tuhan selain Allah, dan Allah Maha Besar”.

6 Subhaanalloh wa Bihamdihii, Subhanallohil ‘Adhim 3x

“Maha Suci Allah, Segala puji bagi-Nya, dan Maha Suci Allah Yang Maha Agung”.

7. Robbanagfirlanaa wa Tub ‘Alainaa Innaka Angtat Tawwaabur Rohiim 3x

“Ya Allah ampunilah kami, Terimalah tobat kami, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

8. Alloohumma Sholli ‘Alaa Muhammad, Alloohumma Sholli ‘Alaihi wa Sallim 3x

“Ya Allah limpahkanlah shalawat dan salam kepada Muhammad”.

9. A’uudzu Bikalimatillaahit Taammati Ming Syarri Maa Kholaq 3x

“Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan apa-apa yang di ciptakan-Nya.”.

10. Bismillaahil ladzi Laa Yadhurru Ma’asmihi Syaiung Filardli wa Laa Fis Samaa’i wa Huwas Samii’ul Aliim 3x

“Dengan nama Allah, yang dengan nama-Nya tiada yang dapat mendatangkan bahaya di bumi maupun dilangit, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.

11. Rhodlitu Billaahi Robbaa wabil Islaami Diinaa wabi Muhammadin Nabiyyaa Wa Rosuulaa 3x

“Aku Rela Allah sebagai Tuhan kami, Islam sebagai agama kami, dan Muhammad sebagai Nabi dan Rasul kami”.

12. Bismillaahi wal Hamdulillaahi wal Khoiru was Syarru bi Masyiiatillah 3x

“Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah, segala kebajikan dan kejahatan dengan kehendaknya”.

13. Aamanna Billaahi wal Yaumil A’akhiri Tubnaa ilallloohi Dhoohirow wa Baathiinaa 3x

“Kami beriman kepada Allah dan Hari Akhir, dan kami bertobat kepada Allah lahir dan bathin”.

14. Yaa Robbanaa Wa’fu ‘Annaa Wamhulladzii Kaana Minnaa 3x

“Yaa Tuhan kami, maafkanlah kami, dan hapuskanlah apa-apa yang telah kami lakukan (dosa-dosa).

15. Yaa Dzal Jalaali wal Ikroom Amitnaa ‘Alaa Diinil Islaam 3x

“Wahai Yang Memiliki Kebesaran dan Kemuliaan, matikanlah kami dalam keadaan beragama islam”.

16. Yaa Qowiyyu Yaa Matiin, Ikfis Syarrod Dlolimiin 3x

“Wahai Yang Maha Kuat lagi Maha Kokoh, selamatkanlah kami dari kejahatan orang-orang yang dzalim.

17. Ashlahalloohu Umuurol Muslimiin, wa Shorrofalloohu Syarrol Mu’diin 3x

“(Ya Allah), perbaikilah semua urusan kaum Muslimin dan selamatkanlah dari kejahatan orang-orang yang suka mengganggiu”.

18. Yaa ‘Aliyyu Yaa Kabiir Yaa ‘Aliimu Yaa Qodiir Yaa Samii’u Yaa Bashiir Yaa Lathiifu Yaa Khobiir

“Wahai Yang Maha Tinggi, Maha Besar, Maha Mengetahui, Maha Kuasa, Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Lembut, dan Maha Mengamati.

20. Yaa Faarijal hammi Yaa Kaasyifal Ghommi Yaa Man Li’abdihii Yagfiru wa Yarham

“(Yaa Allah), Yang menghapuskan kesedihan, Yang menghilangkan kesusahan, Wahai Yang Mengampunidan Menyayangi Hamba-Nya”. 3x

21. Astagfirullooha Robbal Barooyaa Astagfirullooha Minal Khothooyaa 4x

“Aku mohon ampunan Allah, Tuhan Pencipta, Aku mohon ampunan Alloh dari kesalahan-kesalahanku”.

22. Laa Ilaaha Illallooh 50 x

“Tiada tuhan selain Allah”

23. Muhammadur Rosuululloohi SAW wa Syarrofa wa Karroma wa Majjada wa Rodliyaloohu ‘an Ahli Baitihil Muthohiriin wa Ashhabihil Muhtadiin wat Tabi’ina Lahum bi Ihsaanin ilaa Yaumiddiin.

“Muhammad Rasulullah Saw., semoga Allah memuliakannya, menyanjungnya. Dan semoga Allah meridloi keluarganya yang suc, sahabatnya yang mendapat petunjuk serta yang mengikuti mereka dengan kebaikan hingga Hari Kiamat.”

24. Al-Ikhlas 3x, Al-Falaq 1x, An-Naas 1x

25. (At-Taubat 128-129) Laqod Jaakum Rosuulum min Anfusikum ‘Ajizun ‘Alaih, Maa ‘Anittum Hariisun ‘Alaikum bil Mu’miniina Rouufur Rohiim. Faing Tawallau Faqul Hasbiyallohu Laa Ilaaha Illaa Huwa ‘Alaihi Tawakaltu wa Huwa Robbul ‘Arsyil ‘Adhiim”

“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min”. jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah : “Cukuplah Allah bagiku tidak ada tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan hanya Dia adalah Tuhan Yang Memiliki Arasy Yang Agung.

26. (Al-Ahzab : 56) Inalloha wa Malaaikatahuu Yusholluuna ‘Allan Nabiy. Ya Ayyuhal ladziina Aamanuu Sholluuu ‘Alaihi wa Sallimuu Tasliimaa

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman bershalawatlah kamu sekalian dan bersalamlah dengan salam untuknya”.

27. Allohumma Sholli ‘Alaa Sayyidinaa Muhammad #

Allohumma Sholli ‘Alaihi wa Sallim

Allohumma Sholli ‘Alaa Sayyidinaa Muhammad #

Yaa Robbi Sholli ‘Alaihi wa Sallim

Allohumma Sholli ‘Alaa Habibika Sayyidinaa Muhammad#

Wa ‘Aalihii wa Shohbihi wa Sallim

Allohumma Sholli ‘Alaa Habibika Sayyidinaa Muhammad #

Wa ‘Aalihii wa Ashhabihi wa Barrik wa Sallim Ajma’iin

28. Sholalloh ‘Alaa Muhammad # Sholalloh ‘Alaa Muhammad

Sholalloh ‘Alaa Muhammad # Sholalloh ‘Alaa Muhammad

Sholalloh ‘Alaa Muhammad # Sholalloh ‘Alaihi wa Sallam

Sholalloh ‘Alaa Muhammad # Sholalloh ‘Alaihi wa Sallam

Yaa Nabii Salaam ‘Alaika # Ya Rosul Salaam “alaika

Yaa Habiib Salaam ‘Alaika # Sholawatulloh ‘Alaika

Mahalul Qiyaam

Asyroqol Kaunub Tihaajaa # Biwujuudil Musthofah Mad

Wa Liahlil Kauni Ungsun # Wa Sururun Qod Tajaddad

Alam bersinar-sinar bersuka ria # Menyambut kelahiran al-Muasthafa Ahmad

Riang gembira meliputi penghuninya # Sambung menyambung tiada hentinya

Fathroobuu Yahlal Matsaanii # Fahazaarul Yumni Ghorrod

Wastadlii’u Bi Jamaalin # Faaqo Fil Husni Tafarrod

Bergembiralah wahai pengikut Al-Qur’an # Burung-burung kemujuran kini berkicauan

Bersuluh dengan sinar keindahan # Mengungguli semua yang indah tiada bandingan

Walanal Busyroo bi Sa’din # Mustamirrin Laisa Yanfad

Haitsu Uutiinaa ‘Athooaa # Jama’al Fahrol Mu’abbad

Kini wajiblah bersuka cita # Dengan keberuntungan terus menerus tiada habisnya

Manakala kita beroleh anugerah # Padanya terpadu kebanggaan abadi

Falirobbi Kullu Hamdin # Jalla Ayyahsurohul ‘Ad

Idz Habaanaa Biwujuudi # Al-Musthofal Haadii Muhammad

Bagi Tuhanku segala puji # Tiada bilangan mampu mencakupnya

Atas penghormatan di limpahkan-Nya bagi kita # dengan lahirnya al-Musthafa al-Hadi Muhammad

Yaa Rosuulalloohi Ahlan # Bika Inna Bika Nus’ad

Wabijaahihi Yaa Ilaahii # Jud Wa Ballig Kulla Maqshod

Ya Rasulullah, selamat dating ahlan wasahlan # Sungguh kami beruntung dengan kehadiranmu

Ya Allah, Ya Tuhan kami # Semoga kau berkenan memberikan nikmat karunia-Mu

Menyampaikan kami ke tujuan idaman # Demi ketinggian derajat Rasul disisi-Mu

Wahdinaa Nahja Sabiilih # Kai Bihi Nus’ad Wa Nursyad

Robbi Ballignaa Bijaahih # Fi Jiwaarihi Khoiril Maq’ad

Tunjukilah kami jalan yang ia tempuh # agar dengannya kami bahagia broleh kebaikan melimpah

Rabbi, demi mulia kedudukannya di sisi-Mu # Tempatkanlah kami di sebaik tempat, disisinya

Wa Sholaatilloohi Tagsya # Asyofal Rusli Muhammad

Wa Salaamun Mustamirrun # Kullu Hiinin Yatajaddad

Semoga Shalawat Allah Meliputi selalu # Rasul termulia, Muhammad

Serta salam terus menerus # Silih berganti setiap saat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s